Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Aku tak bisa membayangkan seandainya aku terlahir sebagai seseorang yang brengsek. Jika Tuhan dulu menggariskan demikian, aku berharap semoga kebrengsekanku bertahan sampai aku mati. Aku tak mau menjadi mantan orang brengsek karena hal itu akan menyiksa diriku sampai mati. Setiap kali kuteringat kesalahan yang pernah kulakukan aku selalu berteriak seperti orang gila atau bernyanyi-nyanyi seperti suku primitif yang sedang melakukan ritual pemujaan. Liar dan penuh keputusasaan. Berharap setiap oktaf nada yang kukeluarkan dapat menebus semua dosa dan mengembalikan kain kehidupan putih seperti sedia kala. Tapi tidak, kain tetap bernoda. Teriakan dan nyanyian hanya seperti obat anestesi, ada waktu yang membatasinya sehingga dosa tetap terasa bahkan seperti bertambah kadarnya. Coba bayangkan jika aku menjadi mantan orang brengsek di umur 21 sedangkan Tuhan menggariskan hidupku sampai seratus tahun!!! Aku orang yang brengsek. Tidak, ya, tidak, tidak sebrengsek itu. Intinya aku manusia biasa yang sering melakukan dosa. Aku mencintai Tuhan, sangat. Aku juga terobsesi dengan doa. Apa dayaku, aku hanya manusia biasa. Aku bukan malaikat. Sesekali ada saatnya aku berpaling dari-Nya. Tapi selalu saja tidak lama. DNA-ku bagus. Jika digambar di buku biologi mungkin titik-titik dalam pitanya akan berupa nama Tuhan. Tidak, aku hanya berimajinasi. Intinya otakku cukup berfungsi untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tapi terkadang aku perlu melakukan kesalahan untuk menunjukkan eksistensiku. Aku adalah bumi tapi copernicuslah yang berjaya. Tapi boleh kan, sesekali aku perlu mengingatkan akan teori terdahulu. Hei, inilah aku! Lihatlah aku, aku aneh tapi menarik! Hei, lihatlah aku! Aku cantik, tapi seperti pelacur! Tapi benda-benda langit tak punya mata hati. Dia aneh!Dia berdosa! Tiba-tiba dunia melahirkan hakim-hakim yang handal memberikan justifikasi. Bumi pun tenggelam dalam derai hujan dan gelombang pasang. Pelangi,begitu indah. Konon adalah selendang bidadari yang dicuri. Keburukan selalu mencuri kebaikan dari dunia ini. Tapi tanpa keburukan, kebaikan tidak akan ada nilainya. Cinta, konon juga begitu indah. Sebuah kisah tertulis, seorang anak setan memendam rasa pada seorang bidadari. Tapi bidadari telah jatuh cinta pada seorang pangeran. Anak setan kecewa, ia lampiaskan kekecewaannya dengan menculik sang bidadari. Melihat kekasihnya diculik, pangeran tidak tinggal diam. Ia pergi ke gua tempat anak setan tinggal untuk menyelamatkan kekasihnya. Tapi sang pangeran tak kuasa mengalahkan anak setan. Pedang anak setan teracung di ujung nyawanya. Bidadari berteriak, ia menghiba di hadapan anak setan. Ia bersedia melakukan apapun yang diinginkan anak setan, asalkan anak setan mau melepaskan sang pangeran. Sang pangeran terlepas dari maut. Anak setan mendapatkan sang bidadari, dan ciumannya. Tapi semuanya tidak pernah sama. Antara harapan dan kenyataan jauh berbeda. Ciuman sang bidadari di bibirnya terasa menyakitkan. Ciuman itu bukan untuknya, ciuman itu bukan miliknya. Anak setan melepaskan sang bidadari. ” Pergilah, lupakan, anggap aku tak pernah ada!!!”. Keadilan selalu ada. Yang terbaik mendapatkan yang terbaik.Terkutuklah aku si brengsek tapi tidak begitu brengsek ini. Aku akan mendapatkan si brengsek yang tidak begitu brengsek juga.” Sabar, tenang, takdir bisa diubah asal kau juga berubah ”bisik seseorang. Tidak, sudah kukatakan aku tak ingin menjadi mantan orang brengsek dan kau tahu apa alasannya. Seumur hidup aku tak ingin menjadi seperti anggota suku barbar”. Derai hujan dan gelombang pasang telah berhenti untuk sementara. Bumi pun memandang pelangi di sela silaunya cahaya. Oh, sungguh indah pelangi dengan sebab kemunculan dan dengan sebab kelenyapannya. ” I’ll be honest because I think it’s time to make you hate me. I’m a jerk that not so. Just let me be a that jerk and I don’t love you anymore. Good bye “
( Betapapun besarnya cintaku padamu, suatu hari nanti pasti ada saatnya aku harus meninggalkanmu. Cinta saja tidak cukup untuk membuat kita bersama. Meski kebersamaan hanya memerlukan cinta ).